Pada saat itu Marquez unggul 21 poin atas rivalnya dari Ducati, Andrea Dovizioso.
Kunci keberhasilan Marquez dalam balapan final penentu gelar juara adalah dengan pendekatan berbeda.
Jika selama musim tersebut Marquez tampil agresif dan menyerang, maka di Valencia pada saat itu dia tampil bertahan atau membawa motor dengan cara yang paling dikuasainya.
Menurut Marquez, Bagnaia dengan keunggulan 23 poin harus membalap dengan mode bertahan, sementara Quartararo sebagai pengejar harus agresif.
“Jika Anda membalap di Valencia dengan keuntungan besar (unggul di klasemen), maka Anda harus konservatif,” ucap Marquez dilansir dari Crash.
“Jika Anda tiba di Valencia dengan keuntungan kecil (posisi pengejar di klasemen), maka mode agresif!
Misalnya pada 2017, selama akhir pekan saya melakukan serangan penuh .
Saya mendorong. Saya membalap dengan cara yang sama seperti sepanjang tahun,” kata Marquez.
Kemudian di final Valencia 2017 tidak membalap dengan agresif karena berada di posisi yang menguntungkan secara poin.
“Tapi pada hari Minggu (balapan Valencia, 2017) saya hanya mengendalikan balapan.
Memang benar, pada satu titik, saya berkata; ‘oke saya akan menyerang’.
Ini adalah saat saya melakukan penyelamatan luar biasa di Tikungan 1,” ujar Marquez.
“Tapi penyelamatan ini terjadi karena saya tidak menyerang sepanjang balapan. Saya terlalu banyak bicara.
Pada akhirnya, tidak ada yang terjadi. Tapi untuk alasan ini, apakah Anda terlalu konservatif? Terkadang Anda kehilangan konsentrasi.
Lebih baik, jika Anda merasa nyaman dengan motornya, berkendaralah seperti Anda tahu caranya,” tutur Marquez.



